Minggu, 10 April 2011

Novel Laila Majnun


Laila Majnun
Identitas Buku
Judul : Laila Majnun
Pengarang : Nizami
Versi Arab : Qays bin al Mulawah, Majnun Laila
Penerjemah : Ust.Salim Bazmul
Penerbit : Navila
Kota terbit : Yogyakarta
Tahun terbit : 2003
Cetakan : Cetakan ke-11

Resensi
Kisah ini diawali oleh perasaan cinta yang menggila dari seorang pemuda tampan, gagah dan penuh wibawa yang terkenal di kawasan kabilah bani amir, jazirah Arab, bernama Qais. Ia mencintai seorang wanita dari kabilah lain yang tak kalah terkenalnya, seorang wanita yang memiliki cahaya rembulan, ialah Laila. Begitu juga Laila sangat mencintai Qais.
Mereka menjalani kisah cinta secara sembunyi, karena pada waktu itu belum saatnya untuk mereka berdua memadu cinta. Tapi seiring berjalannya waktu kisah cinta itu pun akhirnya tak bisa disembunyikan lagi. Semua orang menjadi tahu kisah cinta mereka, termasuk orang tua Laila. Yang akhirnya mereka tidak bisa bertemu, menuangkan rindu.
Lama mereka tak bertemu, Qais sang pemuda tidak kuat menahan rasa cinta yang seperti bara itu. Ia pun menjadi seperti gila. Bertingkah dan berpenampilan aneh, hingga orang-orang menertawakan dan mencemoohnya. “inilah si majnun, si orang gila, majnun”. Majnun Terkadang menangis, terkadang tertawa. Tapi tangis atau tawanya selalu ia iringi dengan melantunkan kidung-kidung cinta untuk sang kekasihnya Laila. Syair-syair cintanya menyebar dari mulut ke mulut, dan akhirnya sampai juga di telinga Laila.
Mendengar kidung cinta yang begitu menyayat dari kekasihnya yang telah menjadi gila Laila hanya bisa menangis sendiri di dalam kamarnya. Karena ia harus menyembunyikan kesedihannya dari semua orang. Hingga Majnun semakin gila, semakin kehilangan pikiran dan hatinya. Tapi orang-orang di sekitarnya, termasuk sang sayid ayahnya tak bisa berbuat apa-apa. Berbagai cara telah di tempuh namun hasilnya sama saja. Pernah pula sang sayid melamar Laila, namun di tolak oleh orang tua Laila. Hingga Majnun pergi menyendiri, mengasingkan dirinya menyusuri padang pasir najd yang sangat berbahaya.
Tapi selama menyusuri gurun, dari oase ke oase banyak orang yang mengikuti majnun, semata-mata karena hanya ingin mendengar kidung-kidung cinta yang senantiasa dilantunkan majnun. Bahkan ada seorang pemuda yang pandai sekali berperang yang simpati kepada majnun, ia berniat menolong majnun dengan memerangi kabilah Laila. Demi mendapatkan Laila untuk diserahkan kepada majnun. Namun semua usaha yang dilakukan orang-orang disekitar majnun sia-sia. Dan malah majnun semakin gila. Semakin lupa siapa dirinya, semakin tak mengenali semua yang ada di sekelilingnya.
Tapi kesendirian majnun segera berakhir, sebab majnun sudah mendapatkan banyak teman, semua binatang di gurun pasir najd menjadi sahabat majnun. Majnun seperti menjadi bagian dalam kehidupan bianatang-binatang itu. Bahkan menjadi tuannya. Ia tinggal di sebuah bukit yang terjal, yang tak mudah untuk bisa sampai sana. Tanpa selembar kainpun yang menutupi tubuhnya. Di sinilah puncak dari rasa kecintaannya pada Laila.
Dalam rasa kecintaan yang memuncak itu majnun mendapatkan berita yang tak pernah disangka-sangka. Laila menikah dengan seorang kaya yang tampan. Namun meskipun begitu cinta Laila tetap hanya untuk majnun. Begitu juga kehormatan sucinya. Kabar buruk yang lain adalah berita tentang ayahnya yang meninggal yang sebelum meninggalnya sempat mengunjungi majnun, memintanya untuk pulang. Lalu tidak lama kemudian sang Ibu tercintanya pun mengikuti jejak ayahnya, berpulang pada kuasa yang abadi. Inilah puncak kesedihan majnun.
Hingga suatu peristiwa yang terjadi, yang dapat membuat majnun kembali. Dan hijrah dari bukit di gurun pasir najd. Yaitu peristiwa yang membuat hati sangat terluka, sangat menjerit. Lebih dari lukanya ketika kehilangan ayah dan ibunya. Yaitu ketika majnun mendengar kabar bahwa kekasihnya Laila telah meninggal, karena penyakitnya. Majnun segera pergi beserta semua sahabat binatangnya. Pergi menziarahi makam Laila. Lalu menangis sedemikian menjerit. Ia memeluk tanah kuburan Laila. Hingga majnun menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Ia meninggal sambil memeluk kubur Laila.
Sepasang kekasih terbaring dalam kesunyian,
Disandingkan di dalam rahim gelap kematian.
Sejati dalam cinta, setia dalam penantian,
Satu hati, satu jiwa di dalam surga keabadian.

Penilaian menurut saya :
Keunggulan : cerita dalam Novel ini sangat menyedihkan, penuh perjuangan, dan penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang. Novel ini sangat penting dibaca oleh para remaja yang ingin memperjuangkan cintanya.
Dalam novel ini terdapat banyak syair-syair cinta yang diungkapkan oleh Majnun yang membuat hati orang yang mendengarnya menjadi sedih. Dan novel ini merupakan kisah nyata yang terjadi di negara timur tengah.

Kekurangan : banyaknya versi dari novel laila majnun membuat saya jadi bingung  tentang kenyataaan dari kisah ini. Panjangnya cerita yang ada dalam novel ini juga membuat para pembaca jadi cepat bosan. 

Sumber : http://mozaik-dikd.blogspot.com/2009/01/laila-majnun.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar